MEMBANGUN SIKAP AKHLAK. SIKAP KRITIS DAN SIKAP BERKEBHINEKAAN GLOBAL PADA SISWA MELALUI PROGRAM “SAH” DENGAN PENDEKATAN KEARIFAN LOKAL (Praktik Baik di SMPN 14 Kota Bima)
Di zaman yang serba maju sekarang ini penguatan pendidikan karakter menjadi sangat penting dan mendesak untuk diterapkan baik dalam keluarga, sekolah, maupun dalam lingkungan masyarakat. Seakan-akan kemajuan teknologi dan informasi sekarang ini telah menjadi bom waktu yang memicu berbagai konflik baik konflik vertikal maupun horisontal. Kini media sosial telah dijadikan sebagai alat adu domba, saling provokasi, persekusi, saling membuli dan menfitnah satu sama lain, bahkan potret ini juga terjadi terhadap pemimpin. Penyampaian pendapat memang diperbolehkan dan sudah diatur dalam Undang-Undang, tetapi tetap ada etika dalam menyampaikannya. Sebab kita sedang hidup dalam Negara Kesatuan Repulik Indonesia yang diakui dengan budayanya yang santun dan beradab. Melihat kondisi generasi bangsa saat ini, kami berkomitmen bahwa sudah saatnya nilai-nilai budaya kearifan lokal kembali ditumbuh-kembangkan dalam lingkungan sekolah, khususnya pada sekolah kami di SMPN 14 Kota Bima.
Dalam sejarah kesultanan Bima, masyarakat Bima dikenal sangat menjunjung tinggi nilai-nilai-nilai budaya, sebagaimana yang menjadi prinsip dasar budaya “Nggusu Waru,” dan sudah menjadi tradisi secara turun-temurun di dalam kehidupan masyarakat Bima sebagai warisan para leluhur. Tetapi itu dulu, nilai-nilai karakter budaya Bima sekarang sudah mulai ditinggalkan oleh sebagian besar masyarakatnya, terutama dari kalangan anak-anak dan remaja. Budaya santun, budaya saling menghormati, serta rasa kebersamaan sudah mulai luntur seiring waktu berjalan.
Dalam Bahasa Bima, “Nggusu Waru” artinya “persegi delapan.” Nggusu’ artinya persegi dan ‘Waru’ artinya delapan. Nggusu Waru merupakan satu konsep dasar kepemimpinan yang tercipta atas dasar penyatuan nilai-nilai agama, sejarah, dan budaya masyarakat Bima yang terstruktur. Dan Nggusu Waru juga sebagai satu prinsip yang sduah menjadi pedoman ata7 standar etika kepemimpinan di dalam kehidupan kemasyarakatan. Ada delapan nilai dasar kepemimpinan dalam Nggusu Waru, yaitu: Dou ma Dei ro Paja Ilmu (Cerdas), Dou ma Dahu di Ruma (Takwa), Dou ma Taho Ruku ro Rawi (Berprilaku Baik), Dou Londo ra Mai Mataho (Keturunan Baik), Dou ma Dodo Tando Tambarari Kontu (introspeksi diri), Dou ma Mbeca Wombo (kaya), Dou ma Sabua Nggahi labo Rawi (Jujur), Dou ma Disa kai ma Poda (Berani di atas kebenaran) (Dalam Al Ma’rif, Kitab Jawharah yang diterjemahkan oleh Muhlis dan Dr. Hj. Siti Maryam Salahuddin yang berjudul “Permata Kearifan dari Naskah Kuno Kesultanan Bima Jawharah, hal 2011:110-111). Dari kedelapan nilai kepemimpnan dalam “Nggusu Waru”di atas, tiga diataranya akan berkaitan langsung dengan tiga karakter Profil Pelajar Pancasila dalam program Sekolah Pengerak, yakni Dou ma Dahu di Ruma (Takwa), Dou ma Taho Ruku ro Rawi (Berprilaku Baik), Dou ma Dodo Tando Tambarari Kontu (introspeksi diri),
Akhir-akhir ini kita sering sekali mendengar isu-isu intoleransi dan ekslusif yang terjadi di tengah-tengah masyarakat kita, khususnya dalam llingkungan sekolah, seperti: kasus perundungan (buliying), persekusi, tawuran antara kelompok siswa, kasus penghinaan etnis, agama dan ras di media sosial, pemukulan terhadap gurunya, dan isu yang sedang angat-angatnya sekarang ini yaitu ada oknum sekolah yang mewajibkan atribut agama tertentu kepada siswa yang berbeda agama. Hal ini tentunya jika terus-menerus terjadi maka akan memicu masalah yang lebih besar yang mengarah pada disintegrasi bangsa.
Apa yang terjadi saat ini di tengah-tengah masyarakat, menunjukkan betapa pentingnnya penguatan pendidikan karakter agar terus ditanamkan dalam diri anak-anak sejak dini. lingkungan sekolah adalah salahsatu titik awal dalam membangun karakter anak tersebut. Sebab, sekolah merupakan cikal bakal lahirnya generasi bangsa yang Bertaqwa dan Berakhlak Mulia, Bernalar Kritis, Berkebhinekaan Global, Berjiwa Gotong-royong, Kreatif dan Mandiri. Keenam sikap karakter di atas merupakan bagian terpenting dalam Profil Pelajar Pancasila sebagaimana yang menjadi semangat kebijakan Medeka Belajar menuju Transformasi Pemimpin Pembelajaran dalam kelas. Berbicara Transformasi Pemimpin maka akan memiliki korelasi positif dengan nilai dasar kepemimpinan dalam “Nggusu Waru sebagai warisan budaya masyarakat Bima. Budaya inilah yang menjadi potensi yang mesti digali kembali dalam rangka penguatan pendidikan karakter dalam diri anak sesuai dengan budaya mereka sendiri.
Di SMPN 14 Kota Bima, kami sudah memiliki Program dalam rangka mewujudkan Profil Pelajar Pancasila sebagaimana yang dicanangkan oleh Pemerintah saat ini. Program tersebut bernama SAH (Sapa Ayat dan Hadits). Program ini merupakan salah satu program prioritas sekolah kami semenjak saya memimpin SMPN 14 Kota Bima, yang dimulai pada awal-awal bulan Januari 2021. Program ini kami digagas bersama guru-guru sebagai persiapan kami menyambut program Sekolah Penggerak nantinya.
Program SAH ini dilaksanakan setiap hari Rabu pagi yang dirangkaikan dengan kegiatan Aksi Bergizi pembagian tablet obat penambah darah. Kegiatan tersebut disediakan dengan alokasi waktu 1 x 40 menit. Awalnya program SAH ini berlangsung pada saat sekolah kami menerapkan Pembelajaran Tatap Muka (PTM), oleh karena adanya Virus Corona kami langsung alihkan dengan moda pembelajaran secara Daring. Program SAH adalah pembelajaran lintas pelajaran yakni mata pelajaran Pendidikan Agama dan PPKn. Kedua mata pelajaran tersebut adalah sama-sama memilki muatan pembelajaran dasar pendidikan karakter.
Harapan kami, program SAH ini menjadi program yang berkelanjutan yang akan menjadi benteng utama untuk mencegah perilaku-perilaku siswa yang tidak mencerminkan Profil Pelajar Pancasila dalam lingkungan sekolah. Sikap karakter yang menjadi fokus dalam artikel ini terutama berkaitan dengan tiga sikap Profil Pelajar Pancasila, yakni sikap Bertaqwa dan Berakhlak Mulia, sikap Bernalar Kritis dan Sikap Berkebhinekaan Global. Kegiatan yang dilakukan dalam program SAH ini terdiri dari beberapa tahapan, yaitu: Pertama, tahapan membaca Alquran dan Hadits beberapa siswa yang dipilih. Dimana sebagian siswa diberikan kesempatan membaca beberapa ayat Alquran dan Hadits sesuai petunjuk guru. Adapaun materi pokok yang fokuskan adalah sikap Bertaqwa dan Berakhlak Mulia, sikap Bernalar Kritis dan Sikap Berkebhinekaan Global. Setelah dibacakan, kemudian siswa yang lain membacakan terjemahannya. Setelah itu oleh gurunya menyampaikan makna dan pesan yang terkandung di dalam setiap ayat dan Hadits yang sudah dibacakan sebelumnya. Kedua, tahapan menyampaikan kandungan Alquran dan Hadits dalam bentuk Ceramah oleh siswa yang sudah dibimbing khusus kepada siswa yang lainnya. Kegiatan Ceramah ini dilakukan secara bergiliran setelah mendapatkan bimbingan dari guru pembina. Setelah itu oleh guru pembina menyimpulkan apa yang menjadi pesan dari isi ceraman yang disampaikan, begitu seterusnya.
Oleh karena sekarang siswa melaksanakan BDR, tentunya kegiatan dalam program SAH ini dilaksanakan pula secara Daring. Untuk mendukung kegiatan pembelajaran kami menggunakan beberapa aplikasi, salah satunya menggunakan aplikasi Zoom Meeting. Dengan menggunakan aplikasi Zoom Meeting tersebut kami sangat terbantu, apalagi aplikasi ini dapat diunduh dan dapat digunakan kapan saja secara gratis. Namun sebelumnya, terlebih dahulu seluruh siswa diberikan bimbingan secara intens tentang tata cara penggunaan aplikasinya. Pembelajaran melalui Zoom Meeting ini sanga sederhana dan efektif, sebab prosesnya sama persis ketika dilaksanakan pada saat pebelajaran secara Tatap Muka, hanya saja tidak bertatap muka secara langsung tetapi secara virtual. Hal ini juga sangat baik untuk menghindari kontak fisik dari penyebaran virus Corona antara guru dan siswa.
Dalam program SAH ini kami juga sudah menyediakan beberapa buku dan modul sebagai bahan pembelajaran antara lain buku Qualifikasi Alquran. Buku ini sangat efektif dalam memberikan pemahaman secara kompleks atas kandungan Al-quran kepada anak-anak bahkan guru. Di samping itu, kami juga mendapatkan berbagai sumber bacaan dari internet. Program SAH ini sudah kami laksanakan kurang lebih satu tahun, hamper tidak ada kendala yang berarti. Selama itu alhamdulilah belum pernah ada kasus-kasus seperti perundungan maupun perkelahian dalam lingkungan sekolah kami. Hal ini dikarenakan kerja sama tim yang solid. Adanya program SAH yang kami gagas ini semakin memberi keyakinan kepada kami bahwa karakter anak-anak seiring waktu secara bertahap akan semakin baik.
Masyaallah, sungguh program yang menginspirasi pak Kepala....
ReplyDeleteTerimakasih pak Erdin
DeleteTerimakasih pak Erdin
Delete