Skip to main content

CINTAILAH KOTA MU, DENGAN MEMBACA DAN MENULIS

Daerah yang besar adalah Daerah yang menghargai para Pahlawannya. Dalam sejarah berdirinya Kota Bima, telah menghasilkan banyak penulis-penulis terkenal, sebut saja antara lain Ina Ka'u Hj. St Maryam (Alm), M. Hilir Ismail (Alm), Anwar Hasnun, N. Marewo, L Kacen dan Alan Malingi. Mereka adalah para pahlawan sekaligus pejuang pendidikan yang telah mengorbankan ide, gagasan, waktu serta jiwa raganya demi sebuah peradaban di tengah-tengah masyarakat, yang sebagian besar masih belum sadar akan pentingnya literasi Membaca dan Menulis.

Walaupun mereka tidak sepopuler tokoh-tokoh pendidikan lainnya, seperti: K.H. Dewantara, Drikarya atau Ahmad Dahlan. Tetapi karya-karya nya dianggap telah banyak memberikan kontribusi positif bagi perkembangan pendidikan di Daerah sebagaimana tokoh-tokoh yang lainnya.

Apa sih hubungannya pembangunan Kota Bima dengan membaca dan menulis? Ya, ada hubungannya. Dengan Membaca kita akan memperoleh banyak informasi secara akurat, sehingga aspirasi yang  disampaikan kepada pemerintah memiliki dasar dan dapat dipertanggungjawabkan. Sehingga tidak menimbulkan fitnah dan mengkonsumsi berita Hoax. Lalu apa hubungannya dengan Menulis? Sebagai warga yang baik, menjadi tugas kita memberikan pemahaman dan pencerahan kepada seluruh lapisan masyarakat akan sumber informasi yang jelas, saling mendukung, saling menguatkan, tidak justru memprovokasi dan saling menghasut. Dalam bentuk apa, tentunya dalam bentuk tulisan. Apalagi saat ini telah tersedia di media sosial sebagai wadah kita menyampaikan aspirasi serta informasi yang benar dan akurat. 

Adanya Gedung Perpustakaan megah berskala Nasional yang baru-baru ini dibangun atas gagasan Bapak Walikota kita H. Muhammad Lutfi, merupakan bentuk kepedulian dan keinginan pemerintah Kota Bima bersama masyarakat untuk kemajuan Pendidikan di Kota Bima yang lebih berkualitas dan bermartabat. Karenanya kemajuan tersebut sesungguhnya berawal dari Membaca dan Menulis. 

Figur pemimpin seperti inilah yang diperlukan pada masa-masa sekarang di zaman milenial seperti saat ini. Adalah seorang pemimpin yang memiliki visi untuk maju, pemimpin yang paham betul akan pentingnya sebuah pendidikan yang berkualitas, pemimpin yang  tidak hanya memberi contoh tetapi juga dapat menjadi contoh bagi masyarakatnya. Seperti penggalan kata-kata puitis dalam sebuah buku karya Anwar Hasnun yang berjudul Makna dan Fungsi Puisi Bima (2008), yakni Renta ba Lera, Kapoda ba ade, Karawi ba Weki. (hendaknya apa yang pernah kita ucapkan harus kita niatkan dalam hati, lalu kita implementasikan dalam tindakan nyata). 

Mari kita sama-sama membumikan Membaca dan Menulis kepada generasi muda kita, terutama di kalangan Pendidik. Sebab, guru tanpa menulis diibaratkan emas tak berkilau. Artinya, tidak ada alasan bagi guru untuk tidak menulis. Jika banyak orang menggunakan uang dan kekuasaan untuk mempengaruhi orang lain, bagi guru cukup dengan menulis. Bukan pula karena guru gajinya kecil, tetapi semata-mata karena profesionalisme guru yang menuntut peningkatan kompetensi guru dari berbagai aspek, termasuk kompetensi dalam menulis. Semuanya berawal dari kata Tidak Bisa dan Memulai. 

Penulis: Fris Wahyuddin, S.Pd.,M.Si

Kepala SMPN 14 Kota Bima (Sekolah Penggerak)


Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

PIDATO BAHASA BIMA (Padato Nggahi Mbojo) Karya Siswa @ADRIAN PUTRA

  Pidato perayaan 17 Agustus 2022 Assalamualaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh Sawati bu la mada kaso karongga pidato ainai na ake La Mada kaso ma patu wau ta Aina ntanda ni'i ba one wa'ura na'e Kawaraku ai aka na ma da sama bune ake Ntanda mpa dou bune ama ro dua Mori dei ade dunia waraku tani ro neo na Ka na'e mpa sarome ba tanda syukur kai ndai di ruma La mada kaso ma raho bantu aka ita doho kaso ta sara’a na weki Mai ndai ta sama-sama ta rentaku kata merdeka tolu kali Merdekaaaa…!! Merdekaaaa…!! Merdekaaaa…!! Wati wara di renta ba ndai ta ma saramba na, ede du di roi ra wadi ba ndai ta wara na ndai ruma ma na’e ro ma tenggo ro mangau. Ma mbei na ndai ta sara’a tenggo ra wale ara mori ndai di dunia. Ma mbei ja ndai tenggo sarumbu ma taho, di ru’u kai ndaita eda angi ara hidi ma taho ake. Ma ka dua kaina, wati ja nefa ba ndaita shalam ro sholawat ta renta wea ba ndai ta di ru’u nabi Muhammad SAW, ma wau ja ra danda ro tei na ndaita aka ncai ma iha ro rindi ma lao aka n...

Materi Stand UP bahasa Bima Karya siswi Fitriatun Ramdhani

C erita Bahasa Bima Assalamualaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh Sawati bu la mada kaso karongga mada cerita mbojo ma lucu   La Mada kaso ma patu wau ta  Aina ntanda ni'i ba one wa'ura na'e Kawaraku ai aka na ma da sama bune ake Ntanda mpa dou bune ama ro dua Mori dei ade dunia waraku tani ro neo na Ka na'e mpa sarome ba tanda syukur kai ndai di ruma   La mada ma cerita wauta  Wara tolu mbua cerita di karongga ba la mada ta ededu, saramba na, Cerita wunga ngaha fo’o, Kadua kaina cerita pa’e ba niwa, Ma ka tolu kaina cerita ncara weli sabu. Bune aina re, la mada re wara di ne’e ku cerita dei ai nai na ake, ede du cerita Ngaha fo’o labo lenga doho aka sakolah Mada wunga lu’u dei kantin, wara lalo lenga mada ma ouku La cici ku ngarana Sia ke na receku mada ngaha fo’o Nggahi kanari wali ku di mada re Fitriaa, mai ta lao ngaha fo’o Wara ja ku fo’o de ro cici ro (sodi bu mada) Wara wa’a ba nahu ke dua mbua (cambe kai bu la cici) De wara ja wa’amu sia saha ciciro (sodi ...

Makna Implisit "Maja Labo Dahu" sebagai Warisan Budaya Bima

Tidak banyak orang tahu terutama dari kalangan anak-anak dan remaja, bahwa Bima (Dana Mbojo) memiliki warisan budaya yang sangat syarat makna, yakni "Maja Labo Dahu" yang merupakan slogan yang dalam sejarahnya selalu dipegang teguh oleh setiap masyarakat asli Bima dalan kehidupan sehari-hari. Namun sekarang slogan itu secara perlahan mulai ditinggalkan oleh sebahagian masyarakat kita  Dalam slogan tersebut mengandung 2 (dua) kata kunci penting, yakni Maja dan Dahu. Pertama kata Maja, secara harfiah mengandung Maja  berarti Malu. Maknanya adalah bahwa kita sebagai manusia harus malu melakukan segala sesuatu yang merugikan diri sendiri maupun orang lain. Hal ini sesuai dengan perintah agama "Hablumminannas" bahwa kita harus menjalin hubungan baik antar sesama manusia. Kedua kata Dahu, secara harfiah mengandung arti Takut. Dalam Alquran Allah SWT menyerukan agar setiap manusia harus taat dan patuh menjalankan apa saja yang diperintah dan menjauhi segala sesuatu yang di...